Saat Kata-Kata Memilih Pulang: Catatan Jujur Setelah Empat Tahun Menghilang
Menemukan Jalan Pulang ke Sini — Catatan kejujuran tentang writer's block dan surat lama yang menyelamatkanku
Udah lama banget, ya, kita gak ketemu di halaman blog ini?
Mungkin kalian sempat bertanya-tanya, "Ke mana aja, sih?" atau "Kok blognya telantar banget?"
(Atau mungkin ada beberapa dari kalian yang juga kagak pernah nyariin aku kan)🤭
EMPAT TAHUN
Empat tahun sudah tidak pernah menulis disini. Sebenarnya, hiatus Empat tahun Delapan bulan itu menurutku udah termasuk waktu yang cukup lama buat sebuah nama bisa dilupakan ya kan. Selama itu juga, halaman kecil blog ini akhir nya menjadi saksi bisu gimna debu serasa perlahan ngambil alih segalanya. Di atas meja, laptop ku tuh tergeletak pasrah dengan layar gelap. Di sampingnya, ada cukup banyak tumpukan kertas kosong yang bahkan gak pernah tersentuh untuk sedekar menorehkan ide-ide cemerlangku💡rasanya kayak seolah-olah ngejek jemari yang dulunya sangat lincah menari di atas papan ketik.
Bagi sisi seorang penulis, rasanya nda ada kutukan yang lebih mengerikan daripada kehilangan kata-kata.
Aku masih ingat betul malam" di mana cukup banyak desakan dari lonjakan ekspektasi, kritik, dan ketakutan akan kegagalan semua berkumpul menjadi satu monster besar bernama writer's block.
Sebenarnya beberapa waktu belakangan aku juga sedang melipir untuk mencoba menekuni bidang baru yang benar-benar berbeda. Awalnya terasa seru banget, tapi pelan-pelan aku justru merasa kayak kehilangan "suaraku" sendiri.
Tiap kali aku mencoba ngetik satu kalimat di dasbor blog ini, tombol backspace tuh selalu menjadi akhir cerita. Rasanya kayak di khianati sama isi kepalaku sendiri. Tulisan-tulisanku terasa hambar, mati, dan nda lagi punya jiwa. Jadi akhirnya, aku menyerah meninggalkan banyak draft yang tidak pernah sempat diselesaikan. Aku milih buat menutup laptop dan berjalan menjauh pada aktivitas lainnya.
Ada kalanya Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa "Mungkin masa ku udah habis"🥺
Namun, berpura-pura menjadi orang lain yang tidak menulis ternyata jauh lebih menyiksa yaa. Tiap kali lihat deretan buku di toko atau waktu lagi di perpustakaan, ada rasa aneh di hati yang berdenyut perih. Kadangkala, setiap kali dengar beberapa percakapan orang asing di tengah keramaian, ada aja ide-ide liar yang berbisik minta dilahirkan.
Tapi menulis tuh bagiku bukan sekadar pekerjaan semata; menulis jadi caraku bisa menyalurkan emosi/ healthy way to speak up, caraku agar bisa didengar dan menyalurkan ide-ide yang sangat ingin dikenang. Dan selama tiga tahun ini, aku menyadari kalau aku sedang perlahan-lahan tercekik.
Titik balik itu datang secara tidak sengaja minggu lalu saat aku bersihin barang-barang lama dan nemuin kotak kardus lama berisi surat-surat fisik dari teman-teman para pembaca, Aku juga membaca kembali beberapa interaksi kita dan juga pesan-pesan manis yang pernah kamu bagikan di kolom komentar. Aku pun buka lah salah satu surat acak dan di surat pudar itu ditulis lima stngah tahun lalu. Di sana tertulis:
"Joe, makasih dah nulis cerita ini. Yang rajin yaa menulisnya, karena sejujurnya tulisanmu selalu jadi penyemangat dan menemani hari-hari-ku"
Air mataku langsung netes tanpa bisa ditahan (mellow bnget aku orgnya btw)😭
Untuk setiap karya ku di masa mendatang juga tak lain adalah cara untuk menyembuhkan diriku sendiri, dan mungkin, menyembuhkan orang lain yang membaca nya.
Tapi guys.. Aku masih belum bisa janjiin tulisan yang langsung sempurna setelah ini. Tapi satu hal yang pasti: aku di sini lagi, siap merangkai kata demi kata untuk kita nikmati bersama.
Cerita lama mungkin udah usai, tetapi lembar baru baru aja dimulai.
Dan
Aku
kembali.
Yuk, Gantian Cerita!
Setelah dengar ceritaku yang sempat "menghilang", sekarang aku ingin dengar cerita kalian. Bagaimana kabarmu belakangan ini? Apakah ada hal seru, kisah-kisah Best Part kalian, pencapaian" baru, atau justru tantangan hidup yang sedang kamu lalui juga?
Buat kamu yang mungkin lagi berproses untuk "pulang" ke hal yang kamu cintai, semoga tulisan ini bisa memelukmu🫂
BalasHapus